MGMP SOSIOLOGI SMA KOTA TEGAL

MGMP SOSIOLOGI SMA KOTA TEGAL
Forum untuk peningkatan profesonalitas Guru

Jumat, 04 Juni 2010

BELAJAR SOSIOLOGI DENGAN MULTI MEDIA

Oleh : Noerhidayah S.,S.Sos. (Ketua MGMP Sosiologi Kota Tegal/ Guru SMA 3 Kota Tegal
(Disarikan dari hasil penelitian "Strategi Pembelajaran Sosiologi di SMA Negeri/ Swasta se-Kota Tegal ; Suatu Studi Deskripsif )

Pembelajaran adalah proses rangsangan dan gerak balas siswa. Dalam rangsangan itu terkandung pesan intelektual, emotif dan afektif. Pesan akan lebih mudah ditangkap oleh siswa apabila tersajikan melalui media empirik yang beranekaragam, seperti film, slide, foto, grafik serta diagram. Dari media inilah siswa terpacu untuk mengeluarkan ide, konsep atau membantu mereka mencerna sesuatu yang abstrak.
Dengan fasilitas empirik itu sesuatu yang abstrak atau bersifat historis direduksi pada suatu kenyataan yang bisa diinderai. Dengan demikian, persepsi temporal dan kebutuhan untuk mempelajarinya bisa muncul. Apabila siswa dilengkapi dengan insentif yang memadai maka kemampuannya untuk berasosiasi dan beradaptasi pun dapat diperoleh dengan segera.
Berkaitan dengan aktualisasi fasilitas empirik ini, tidak ada salahnya bagi guru untuk menjadikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat sebagai topik aktual dalam pembelajaran. Hal ini penting dilakukan agar siswa berimpresi positif bahwa sebenarnya pengetahuan itu bisa diperoleh lewat lingkungan sekitarnya, dan bahkan pengetahuan itu terjadi dan sudah ada dalam dirinya. Yang harus mereka lakukan sekarang adalah memposisikannya secara konseptual dan tercerna dalam strata yang diajukan oleh Bloom. Agar hal ini bisa terjadi maka guru perlu mempersiapkan skenario pembelajaran yang tepat dan sesuai.
Di bawah ini diberikan salah satu contoh pembelajaran yang menggunakan strata intelektual dan multimedia. Sebelum guru tampil di depan siswanya, guru sudah memikirkan atau memiliki konsep tertentu tentang topik yang ingin dibahas. Konsep itu tidak lain berupa sasaran kompetensi dan suasana yang ingin dibangun dalam pembelajaran. Dalam bahasa khas standarisasi nasional disebut dengan istilah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) berupa penetapan indikator pencapaian kompetemsi dan tujuan pembelajaran dari suatu topik bahasan. Misalnya, suatu topik mengenai Dampak-Dampak Negatif dari perubahan sosial. Indikator pencapaian kompetensinya adalah siswa dapat memahami dampak-dampak negatif dari perubahan sosial dan mengekplorasi pengalaman inderawinya serta mempunyai perspektif tertentu terhadap dampak-dampak tersebut. Kompetensi yang harus dimiliki siswa setelah pelajaran itu selesai ialah menyebutkan dampak-dampak negatif dari perubahan sosial, menghubungkan dampak yang satu dengan dampak yang lain, menjelaskan kebijaksanaan yang ditempuh pemerintah, siswa dapat mengobjeksi kebijaksanaan tersebut, memberikan alternatif pemecahan dan siswa dapat mempunyai konsep sendiri tentang usaha-usaha mengatasi dampak negatif perubahan sosial.
Guru dapat menggunakan pendekatan rasional atau fungsional untuk topik ini karena selain guru menyampaikan konsep atau teori yang harus dicerna oleh siswa, guru juga menginginkan perilaku tertentu yang harus dimiliki oleh siswa, seperti aktivitas membaca koran/majalah atau mengangkat situasi-situasi hidupnya. Dalam pembelajaran, guru boleh menggunakan tiga metode sekaligus yaitu metode ceramah, diskusi dan tugas. Tentu saja guru harus terlebih dahulu mencari referensi buku, media massa dan pengalaman-pengalaman aktual pada lingkungan sekitarnya.
Pada sesi pembahasan guru dapat menyajikan informasi mengenai perubahan sosial, seperti pengertiannya, faktor penyebab urbanisasi, contoh-contoh mengenai dampak positif dan negatif perubahan sosial. Uraian itu disajikan terstruktur, singkat dan jelas.
Untuk membangkitkan perhatian dan menarik minat siswa maka sebelum memulai topik itu, terlebih dahulu disajikan gambar, foto, film atau slide OHP yang berhubungan dengan dampak-dampak negatif perubahan sosial. Guna merangsang ingatan dan pengetahuan siswa, mereka diberi kesempatan untuk berkomentar atau menyampaikan tanggapannya masing-masing terhadap apa yang disajikan itu. Guru juga boleh menanyakan apakah mereka mempunyai cerita atau pengalaman yang mirip sama. Bagaimana mereka memberikan tanggapannya masing-masing terhadap cerita atau pengalaman itu. Guru kemudian menghubungkan realitas atau kesan inderawi itu dengan topik bahasan yang ingin dipelajari. Setiap jawaban yang diberikan selalu ditanggapi dengan penguatan materi yang tepat.
Guru menjelaskan pengertian perubahan sosial dan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial serta memperlihatkan contoh-contoh positif dan negatif dari perubahan sosial serta menyebutkan salah satu kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah, misalnya untuk mengatur jarak kelahiran, maka program Keluarga Berencana dilaksanakan.
Demi melibatkan peran aktif siswa, maka mereka dibagi dalam kelompok-kelompok dan mendiskusikan dampak-dampak negatif itu, membandingkan dampak yang satu dengan yang lain. Mereka menjelaskan strategi yang pernah mereka atau pemerintah lakukan. Melihat keunggulan dan kelemahannya dan mengemukakan alternatif pemecahan baru. Guru bisa melakukan gerak mendekati, mengunjungi kelompok-kelompok itu dan menanyakan kesulitan apa yang dialami siswa dalam tugas itu.
Hasil diskusi kelompok dilaporkan dan masing-masing kelompok memberikan kritik dan tanggapan atas hasil diskusi itu. Kemudian, sebagai moderator guru memberikan masukan seimbang terhadap yang masih kurang. Salah seorang siswa diminta menyimpulkan hasil diskusi. Sebagai bahan tugas dan sekaligus mengevaluasi konsep yang dimiliki siswa, guru menyampaikan salah satu dampak positif dan negatif dari perubahan sosial dan meminta siswa membeberkan solusi yang sudah pernah diambil pemerintah, menemukan kelemahan dan kelebihannya, mencari solusi alternatif serta memikirkan langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah penduduk dengan menggalakkan program Keluarga Berencana.

HASIL SELEKSI GURU PEMANDU SOSIOLOGI TAHUN 2010

Baru-baru ini kami dari MGMP Sosiologi SMA Kota Tegal telah mengikuti Seleksi Guru Pemandu Sosiologi yang diadakan oleh Lembaga Pemjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah pada hari Kamis, 15 April 2010 jam 08.00 - 13.30 bertempat di LPMP Jateng, Jalan Kyai Mojo, Srondol Semarang. Calon yang ikut seleksi Guru Sosiologi SMA Kota Tegal yaitu :
a. Siti Hajar, S.Sos. SMA Negeri 3 Tegal
b. Erni Ekawati, S.Sos. SMA Negeri 4 Tegal
c. Puji Mustikaningrum SMA Negeri 5 Tegal
d. Dra. Umyati SMA Negeri 5 Tegal
e. Dra. Nurlatifah SMA Al Irsyad Tegal
f. Dra. Chamidah SMA Al Irsyad Tegal
g. E. Prabowo W., S.Pd. SMA Pius Tegal
h. Drs. Mukhlasin SMA Muhammadiyah Tegal
i. Prihatin Endah S.,SE. SMA Ihsaniyah Tegal

berdasarkan hasil seleksi Guru Pemandu, diambil 3 (tiga) orang yang diangkat sebagai Guru Pemandu Sosiologi SMA Kota Tegal yaitu :
a. Siti Hajar, S.Sos. SMA Negeri 3 Tegal
b. Erni Ekawati, S.Sos. SMA Negeri 4 Tegal
c. Puji Mustikaningrum SMA Negeri 5 Tegal

Selamat kepada rekan yang mendapat amanah sebagai Guru Pemandu Sosiologi SMA Kota Tegal. Mari kita rapatkan barisan untuk meningkatkan kinerja dan profesionalitas kita sebagai guru.

Info sementara : Training of Trainer (ToT) Guru Pemandu Sosiologi SMA in Service 1 Insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 25 s.d. 27 Juni 2010. Surat undangan menunggu surat dari LPMP dan surat tigas dari Dinas Pendidikan Kota Tegal.

Sabtu, 22 Mei 2010

FORUM ILMIAH GURU SOSIOLOGI

Hasil Wawancara dengan Guru Sosiologi SMA se-Kota Kota Tegal tentang :
Rendahnya Minat mempelajari Sosiologi
(Peneltian Deskripstif Kualitatif - Oleh Noerhidayah S.,S.Sos. - Guru SMA N 3 Tegal)


Anggapan negatif terhadap mata pelajaran Sosiologi tidak bisa dilepaskan dari faktor internal dan eksternal. Yang dimaksud dengan faktor internal adalah segala hal yang terkait langsung dengan proses pembelajaran Sosiologi di SMA seperti materi, buku teks, guru pengampu mapel , strategi/metode pembelajaran, fasilitas belajar, hasil evaluasi/ujian. Sedangkan faktor eksternal adalah anggapan yang hidup dalam masyarakat, termasuk di lingkungan guru sendiri, tentang keberadaan ilmu sosial dalam masyarakat. Berikut ini akan penulis uraikan tentang faktor internal dan eksternal.
1. Faktor Internal
a. Materi
Materi Sosiologi yang tertuang dalam Standat Isi dan secara lebih rinci ditulis buku teks / bahan ajar mata pelajaran Sosiologi kurang realistis dan kurang jelas apa yang hendak dicapai. Dalam jangka waktu yang sangat pendek, siswa dipaksa untuk menguasai materi yang sangat banyak dan penuh dengan berbagai konsep abstrak yang sebagian tidak konstektual. Menurut penuturan Informan 1 ( Yuni Kurniawati, guru SMA 2 Tegal) dikatalan bahwa Materi pelajaran Sosiologi di SMA kebanyakan berisi berbagai definisi yang kurang relevan dengan situasi sehari-hari masyarakat Indonesia, termasuk kehidupan siswa.Kalau hal ini terjadi, maka akan memaksa seluruh siswa untuk kenjadi Sosiolog. Jangankan mereka tertarik menjadi Sosiolog, siswa malah menjadi semakin jenuh karena otak siswa dijejali dengan berbagai definisi, mulai interaksi sosial, sosialisasi, nilai dan norma sosial, penyimpangan sosial, pengendalian sosial dan lain-lain. Konsep-konsep tersebut terpaksa siswa hapalkan tanpa tah apa relevansinya bagi kehidupan mereka. Dengan materi seperti sekarang ini, siswa Cuma menghapalkan konsep-konsep dalam Sosiologi untuk keperluan ulangan atau ujian semata. Dan setelah selesai ujian/ulangan, selesai juga konsep itu melekat dalam otak siswa.
Sementara Informan 2 ( Drs. Mukhlasin, guru Sosiologi SMA Muhammadiyah Tegal ) menyatakan bahwa mata pelajaran Sosiologi seharusnya dirancang sebagai mata pelajaran yang sederhana dan mengasyikkan bagi siswa. Dengan bantuan beberapa konsep yang sederhana dan tidak disusun bak mantra yang harus dihapalkan oleh siswa, sehingga Sosiologi seharusnya menjadi alat analisa yang membantu siswa untuk memahami, menilai dan merespon secara kritis dinamika dan perubahan sosial yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengacu pada gagasan seperti ini, revisi kurikulum Sosiologi perlu segera dilakukan.


b. Buku Teks Pelajaran Sosiologi
Buku adalah turunan dari kurikulum. Ketika kurikulumnya problematis, maka buku-buku yang merupakan bentuk operasional dari kurikulum tersebut juga akan problematis. Menurut Informan 3 (Sri Guningsih, S.Sos., guru Sosiologi SMA Al Irsyad Tegal), dikatakan bahwa berbagai buku-buku mata pelajaran Sosiologi yang beredar di sekolah-sekolah adalah turunan buruk dari kurikulum yang juga buruk karena ditulis oleh orang-orang yang kurang kompeten. Kebanyakan buku yang beredar hanya copy paste dari buku-buku buruk yang beredar sebelumnya yang rata-rata meng-copy paste begitu saja dari buku-buku untuk kalangan mahasiswa universitas. Kreatifitas penulis untuk mensiasati materi kurikulum yang buruk dengan menyusun buku yang sederhana, tidak normatif, tidak terlalu abstrak, menyenangkan dan merangsang rasa ingin tahu siswa kurang nampak dalam dalam berbagai buku mata pelajaran Sosiologi yang beredar di pasaran. Kreatifitas yang kurang mencerminkan kompetensi penulis yang juga kurang. Seyogyanya mulai sekarang peningkatan kompetensi, uji kompetensi dan sertifikasi penulis buku oleh instansi yang berkompeten seperti pusat perbukuan Depdiknas maupun lembaga independen seperti universitas (utamanya yang memiliki jurusan Sosiologi) mulai dilakukan untuk meningkatkan kualitas bahan ajar (buku teks mata pelajaran). Apabila tidak memenuhi kriteria tersebut, maka seseorang tidak diijinkan untuk menulis buku teks mata pelajaran Sosiologi. Selain itu,aturan hak cipta penulisan buku teks pelajaran juga perlu ditegakkan.
c. Guru Pengampu Mata pelajaran Sosiologi
Menurut penuturan Informan 4 ( Siti Hajar, S.Sos. guru Sosiologi SMA 2 Tegal ) dikatakan bahwa kebanyakan guru-guru pengampu mata pelajaran Sosiologi SMA di kota Tegal tidak memiliki latar belakang dan kompetensi untuk mengajar mata pelajaran Sosiologi. Hal ini dikarenakan sebagian besar ( 88% ) guru sosiologi di Kota Tegal mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan . Sebagian dari guru pengampu mata pelajaran Sosiologi berlatar belakang Pendidikan Geografi, Sejarah, PKn, Agama, dan Ekonomi. Mereka mungkin bisa mengajar, namun sebenarnya jiwa Sosiologi hanya dapat diberikan oleh mereka yang bertahun-tahun menggeluti ilmu Sosiologi. Bahkan bukan cuma tidak memiliki jiwa Sosiologi, ada pula guru yang kurang memahami beberapa materi dalam mata pelajaran Sosiologi, terutama untuk yang sifatnya teknis seperti metodologi penelitian sosial. Lebih lanjut Siti Hajar, S.Sos. menyatakan bahwa peningkatan kompetensi guru melalui pendidikan lanjutan (S-2 atau S-3 Sosiologi) dan mengikuti berbagai macam pelatihan adalah jalan keluar atau solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan buruknya kualitas sumber daya manusia guru-guru mata pelajaran Sosiologi SMA.
d. Metode Pembelajaran Sosiologi
Berdasarkan pengamatan dan curah pengalaman guru-guru Sosiologi SMA se-Kota Tegal dapat dilihat bahwa metode pembelajaran yang banyak dilakukan oleh guru-guru Sosiologi adalah metode ceramah berdasarkan teks. Pada metode ini, siswa mendengarkan dan mencatat materi yang dijelaskan guru di depan kelas melalui metode ceramah Hal ini menyebabkan siswa menjadi jemu dan proses pembelajarannya menjadi kurang diminati oleh siswa, Namun demikian metode inisering digunakan oleh guru-guru Sosiologi SMA di kota Tegal karena metode ini dinilai merupakan cara yang paling aman bagi guru untuk menutupi ketidakmampuannya. Hal ini juga merupakan cara yang paling ampuh juga untuk membungkam pertanyaan-pertanyaan kritis siswa yang jawabannya tidak ada di dalam buku teks yang menjadi pegangan guru.
Lebih lanjut Informan 5 (Dian Sukmawati, S.Sos. guru Sosiologi SMA Muhammadiyah Tegal) menuturkan bahwa Sosiologi merupakan ilmu tentang masyarakat. Pemahaman, penilaian, respon atas persoalan masyarakat tentu saja tidak bisa disusun semata-mata di dalam ruang belajar melalui ceramah atas dasar buku teks saja. Di ruang kelas, siswa memang harus memahami berbagai konsep Sosiologi. Namun siswa juga harus didorong untuk mengaitkan / menghubungkan konsep-konsep tersebut melalui berbagai macam kegiatan lapangan (pengamatan/observasi, survei sederhana, analisis isi media dan sabagainya) yang hasilnya ditulis untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas sebagai bahan diskusi. Dengan cara seperti ini, siswa bukan saja bisa bersikap kritis terhadap konsep-konsep Sosiologi, namun juga terhadap dinamika sosial yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (mempertanyakan, menganalisa dan tidak menutup kemungkinan siswa dapat memberikan tawaran alternatif atas berbagai konsep-konsep Sosiologi yang berhubungan dengan permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kalau metode pembelajaran Sosiologi ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran Sosiologi SMA, maka Sosiologi bisa menjadi mata pelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa.
e. Fasilitas Belajar
Beragam materi dalam mata pelajaran Sosiologi membutuhkan dukungan berbagai fasilitas belajar, mulai dari buku-buku teks pelajaran, buku referensi / buku penunjang, koran, majalah, fasilitas internet, laboratorium komputer dan sebagainya. Untuk sekolah-sekolah miskin di pinggiran / pedalaman, hal ini tentu sangat memberatkan.Menurut Informan 6 ( Prihatin Endah Susanti, SE, Guru Sosiologi SMA Ihsaniyah Tegal ), dikatakan bahwa meskipun sekolah sangat terbatas fasilitas belajar untuk pembelajaran sosiologi, biasanya guru-guru yang kreatif dan inovatif akan selalu melihat peluang untuk maju di tengah segala keterbatasan fasilitas belajar, dimananya biasanya guru-guru tersebut biasanya dapat mensiasati keadaan seperti ini. Ketika tidak laboratorium komputer untuk mengolah hasil survei sederhana, cara manual yang dilakukan. Ketika koran, majalah untuk analisa isi tidak tersedia, maka metode etnografi sederhana, oral history bisa digunakansebagai penggantinya. Yang paling penting adalah siswa belajar konsep di kelas, untuk peningkatan pemahaman siswa diberi tugas untuk turun ke lapangan untuk melakukan pengamatan / orbservasi, setelah itu membuat tulisan / laporan hasil observasi dan atau mendiskusikan hasil observasi dari lapangan.
f. Ujian
Karena yang diajarkan di kelas adalah definisi-definisi yang harus dihapalkan oleh siswa, maka seperti itu jugalah materi unutk ulangan maupun ujian mata pelajaran Sosiologi. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari tuntutan kurikulum yang mengharuskan siswa menguasai kompetensi tertentu maupun dari bahan ajar / buku teks mata pelajaran Sosiologi sebagai turunannya yang juga berperspektif hapalan. Menurut penuturan Informan 7(Siti Aisyah, S.Pd.,Guru Sosiologi SMA NU Tegal) dikatakan bahwa ulangan/ ujian Sosiologi hendaknya mencerminkan pengetahuan siswa tentang konsep, kemampuan analisa atas data dari hasil observasi/pengamatan di lapangan, kritik terhadap konsep dan rekomendasi , yang dituangkan dalam bentuk tulisan / laporan / makalah sederhana dan dipresentasikan di depan siswa lainnya. Ini tentunya disesuaikan dengan konteks siswa SMA, bukan ahli Sosiologi (Sosiolog) maupun peneliti sosial.
2. Faktor Eksternal
Menurut penuturan Informan 8 (Dra. Khamidah, guru SMA Al Irsyad Tegal) dikatakan bahwa anggapan negatif siswa terhadap mata pelajaran Sosiologi adalah cerminan dari anggapan masyarakat termasuk orang tua siswa maupun guru lain di sekolah. Hal ini bisa dipahami karena guru-guru yang bergelut dalam ilmu ini di kota Tegal, termasuk guru-guru Sosiologi SMA di kota Tegal tidak memperhatikan sinyal atau prestasi yang bisa menumbuhkan anggapan yang positif. Yang terpenting yang harus diperhatikan adalah melakukan pembenahan-pembenahan internal (seperti menggunakan model-model pembelajaran yang dapat menarik minat siswa untuk belajar sehingga anggapan negatif mereka tentang mata pelajaran Sosiologi akan semakin berkurang bahkan hilang). Lebih baik guru-guru menunjukkan profesiolitas dan kreativitasnya dalam pembelajaran dan secara terus-menerus daripada mengeluh atau sibuk membela diri atas angapan negatif siswa dan masyarakat terhadap mata pelajaran Sosiologi.

Jumat, 21 Mei 2010

POJOK ILMIAH GURU

Membentuk Kemampuan Berpikir Siswa dalam Pembelajaran Sosiologi
Oleh : Noerhidayah S.,S.Sos.
Ketua MGMP Sosiologi Kota Tegal / Guru SMA N 3 Kota Tegal

Proses pembelajaran pada dasarnya sangat berkaitan erat dengan pembentukan dan penggunaan kemampuan berpikir. Siswa akan lebih mudah mencerna konsep dan ilmu pengetahuan apabila di dalam dirinya sudah ada struktur dan strata intelektual, sehingga ketika ia berhadapan dengan bahan atau materi pembelajaran, ia mudah menempatkan, merangkai dan menyusun alur logis, menguraikan.
Struktur dan strata intelektual terbentuk ketika intelek manusia beradaptasi dengan hal-hal yang diserap oleh pancaindera. Menurut ahli psikologi, Jean Piaget (1896-1980), sebagaimana tubuh kita mempunyai struktur tertentu agar dapat berfungsi, pikiran kita juga mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata. Skema adalah struktur mental atau kognitif yang dengannya seorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya.
Skema juga bisa disebut sebagai konsep, gambaran atau kategori dalam diri manusia yang terjadi ketika manusia menggunakan pancainderanya. Gambaran itu akan semakin berkembang dan lengkap sesuai dengan tingkat kedewasaan manusia.
Apabila manusia mengintegrasikan gambaran baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya, maka ia melakukan proses asimilasi. Proses ini terjadi bila ada kesamaan dengan konsep yang sudah ada atau melengkapi konsep itu. Dikala manusia tidak menemukan kecocokan dengan konsep yang sudah ada maka manusia melakukan akomodasi. Dalam proses ini manusia membentuk skema baru.
Benyamin S. Bloom (1956) melengkapi pendapat Jean Piaget dengan membuat stratifikasi intelektual yaitu menerapkan gaya pembelajaran dengan memperhatikan aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Memang diakui bahwa identifikasi strata intlektual ini jarang dimengerti dan diterapkan guru. Barangkali karena ketidaktahuan menggunakan prinsip-prinsip logika. Ukuran kemengertian siswa sebatas mempunyai jawaban persis sama dengan apa yang ada dalam buku, bukannya peta konsep (concept map) yang sama seperti kepunyaan guru. Belajar yang sesungguhnya adalah proses mentransfer konsep, seperti mempunyai kemampuan mengetahui apa yang dipelajari, membahasakannya dengan bahasa sendiri, menerapkannya dalam konteks yang praktis, mempunyai keahlian untuk membandingkan dan menganalisa serta bisa memberikan kesimpulan logis secara deduktif dan induktif dan seterusnya bisa menguraikan secara dialektis kesimpulan yang sudah disusunnya itu.
Kehadiran guru tidak lain membantu siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan strata intelektual itu dan memperlihatkan kesesuaiannya dengan kriteria kebenaran pengetahuan, yakni kebenaran yang selalu benar untuk setiap keadaan dengan konsep atau cara belajar yang sama, atau menurut referensi ahli dan acuan epistemologis yang membidanginya.

CATATAN SEORANG GURU

MENUMBUHKAN MOTIVASI UNTUK MEMPELAJARI SOSIOLOGI DI KELAS
Oleh : Noerhidayah Suprihatini, S.Sos.
Guru SMA Negeri 3 Kota Tegal



Persepsi-persepsi atau anggapan-anggapan negatif terhadap mata pelajaran Sosiologi telah menghinggapi sejumlah siswa SMA. Mata pelajaran Sosiologi oleh siswa dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan karena sajiannya bertele-tele dan untuk menguasainya dibutuhkan kemampuan menghafal yang luar biasa. Penilaian yang kurang mengesankan ini terlahir dari kenyataan bahwa ilmu sosiologi sebagai produksi masa lampau yang dalam penyajiannya tidak relevan dengan konteks sosial siswa. Kontekstualisme ini diperhebat dengan kejenuhan mental dalam mengejar tuntutan pemenuhan kurikulum tingkat satuan pendidikan yakni menghafal sejumlah kompetansi yang tersajikan dalam aneka buku wajib mata pelajaran Sosiologi. Seolah-olah para siswa telah terasing dari diri mereka dan telah menjadi robot kurikulum, sehingga mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk bermain, refreshing dan melakukan interaksi sosial.
Tatkala guru menyajikan sejumlah teori sosial, mereka semakin bingung. Apa lagi, sajian-sajian itu tidak tepat sasaran dan tidak sesuai dengan situasi sosial lingkungan sekitarnya. Mereka harus berpikir dua kali untuk mengasosiasikan teori dengan kenyataan hidupnya dan selanjutnya mencerna teori sajian guru. Keterlambatan dalam menginternalisasi materi pun terjadi. Konsep siswa baru pada tahap asosiasi, tetapi waktu pelajarannya keburu selesai. Siswa enggan melanjutkan hal itu lagi karena sudah terjaring limit waktu dan harus beralih ke mata pelajaran yang lain.
Jika keacuhan siswa karena kehilangan persepsi/anggapan positif dalam mempelajari sosiologi maka yang terpenting yang harus dilakukan oleh guru adalah mempunyai pemahaman yang tangguh tentang motivasi dan menemukan pola pembelajaran yang menumbuhkan motivasi siswa. Morgan (1986) dalam bukunya Introduction To Psychology, menjelaskan bahwa siswa yang malas itu disebabkan karena tidak adanya insentif yang menarik bagi dirinya dan ia pun tidak merasakan perasaan yang menyenangkan dari pembelajaran. Insentif dan perasaaan menyenangkan ini menjadi dorongan yang berarti bagi siswa. Seseorang berperilaku tertentu karena ingin mendapatkan sesuatu. Contoh insentif yang paling umum dan paling dikenal oleh siswa misalnya jika mereka naik kelas akan dibelikan mobil atau sepeda baru oleh orang tua. Hal ini bukan berarti guru harus seperti orang tua yang membelikan mobil, tetapi menyiapkan insentif berupa pujian (reinforcement) atau kesempatan melakukan pekerjaan lain yang memungkinkan mereka tidak terpinggirkan dari kawan-kawan lainnya.
Pujian guru menunjukkan penghargaan dan perhatian terhadap siswa. Siswa seringkali haus perhatian dan senang dipuji. Jadi dari pada memberikan perhatian ketika siswa tidak mau belajar dengan cara marah-marah dan hanya berkomentar yang merendahkan siswa, akan lebih efektif perhatian guru diarahkan pada suatu hal yang menumbuhkan rasa percaya diri dan kemauan untuk mencari informasi. Misalnya, si A pada saat ini belum bisa menjawabnya dengan baik, mungkin besok dia akan mempresentasikan informasi tersebut secara lebih lengkap.
Kerapkali insentif positif seperti di atas kurang manjur dan bahkan tidak memberi faedah perubahan bagi siswa. Kalau demikian halnya maka guru harus melihat kondisi yang memungkinkannya. Jika kondisi memaksa guru harus mempergunakan insentif negatif maka tipe insentif itu haruslah yang bermaksud untuk menghindar perolehan insentif yang tidak menyenangkan itu. Misalnya, si A tidak mengerjakan tugas bukan karena ia tidak bisa tetapi karena malas, maka insentif yang bisa diberikan adalah menyuruhnya untuk mengerjakan tugas tetapi dalam porsi yang lebih banyak untuk mengejar ketinggalannya. Pada kondisi ini diperlukan keahlian guru untuk melihat karakter siswa. Jika karakternya dipahami maka guru akan memberikan insentif yang lebih tepat.
Selain adanya insentif, motivasi juga bisa muncul bila ada pemenuhan kebutuhan yang signifikan dalam mempelajari sesuatu. Siswa akan dipacu jika ia menemukan manfaat yang berarti bagi dirinya yang kemudian bisa dilanjutkan dengan aktualisasi dirinya melalui pembelajaran itu, sebagaimana dikatakan oleh Abraham Maslow (1908-1970) dalam teori psikologinya, yakni semakin tinggi need achievement yang dimiliki seseorang semakin serius ia menggeluti sesuatu itu. Jadi, guru merupakan motivator yang memperlihatkan sejumlah manfaat dalam setiap sajian pembelajaran.
Hal lain yang bisa dilakukan untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa adalah dengan mengajak mereka melihat pengalaman-pengalaman yang pernah dimilikinya dan dijadikan topik pembelajaran dengan memperhatikan konteks kurikulum dan emosional psikologis siswa. Banyak lembaga pra-sekolah sudah mulai menggunakan metode
active learning atau learning by doing, atau learning through playing, salah satu tujuannya adalah agar siswa mengasosiasikan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Siswa diberi kebebasan untuk mengekspresikan dirinya melalui apresiasi pengalaman konkret. Tapi seringkali karena keterbatasan waktu dan banyaknya mata pelajaran yang harus disajikan untuk siswa, hal ini agak sulit dipraktekkan. Minimalnya, guru mensetting suasana belajar dengan menghindari omelan-omelan, karena dengan itu siswa akan mengasosiasikan suasana belajar sebagai hal yang menarik.

HASIL PTK SOSIOLOGI

Hasil PTK Sosiologi
Oleh Noerhidayah Suprihatini,S.Sos.
Guru Sosiologi SMA Negeri 3 Tegal / Guru Pemandu
ABSTRAK
Kata kunci : Pembelajaran Masyarakat Multikultural, Sosiologi, Model Problem Based Learning

Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah: (a) Apakah dengan Model Problem Based Learning dapat meningkatkan penguasaan konsep Masyarakat Multikultural pada pembelajaran Sosiologi pada kelas XI IPS.1 SMA Negeri 3 Kota Tegal tahun pelajaran 2007/2008 ?, (b) Bagaimana perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan kualitas pembelajaran sosiologi melalui Model Problem Based Learning ?

Tujuan penelitian ini adalah: (a) Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sosiologi melalui Model Problem Based Learning pada kelas XI IPS.1, (b) untuk mengetahui perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan kualitas pembelajaran sosiologi melalui Model Problem Based Learning pada kelas XI IPS.1

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes yang diolah dengan menggunakan deskripsi prosentase. Nilai yang diperoleh siswa dirata-rata untuk menemukan tingkat penguasaan konsep Masyarakat multikultural dalam pembelajaran sosiologi. Data kualitatif diperoleh dari observasi, wawancara dan jurnal yang diklasifikasi berdasarkan aspek-aspek yang dijadikan bahan analisis. Data kuantitatif dan kualitatif ini kemudian dicari hubungannya sebagai dasar untuk memaparkan keberhasilan penerapan Model Problem Based Learning, yang ditandai dengan peningkatan penguasaan konsep masyarakat multikultural dalam pembelajaran sosiologi secara klasikal dan perubahan tingkah laku yang menyertainya. Penelitian ini dilaksanakan minggu kedua Maret 2008 sampai dengan akhir april 2008 di SMA Negeri 3 Kota Tegal.

Kesimpulan penelitian ini adalah: (a) Model Problem Based Learning dapat meningkatkan penguasaan konsep masyarakat multikultural dalam pembelajaran sosiologi pada kelas XI IPS.1 SMA Negeri 3 Kota Tegal tahun pelajaran 2008/2009. Peningkatan penguasaan tersebut meliputi aspek kognitif, aspek psikomotor dan aspek afektif baik secara individual maupun secara klasikal, (b) Perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan kualitas pembelajaran itu adalah terjadinya peningkatan dalam hal: kepekaan para siswa dalam mengidentifikasi masalah sosial, kemampuan sejumlah siswa dalam berargumentasi, dan meningkatnya motivasi dalam mengikuti pembelajaran sosiologi.

Selasa, 10 November 2009

DIKLAT MATA PELAJARAN SOSIOLOGI SMA TINGKAT NASIONAL TAHUN 2009

Dalam rangka mengembangkan Kompetensi guru baik kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial maupun kemampuan profesional , guru diharapkan selalu meningkatkan profesionalitas melalui berbagai kegiatan ilmiah guru yang bertujuan untuk menambah wawasan, pengalaman dan inovasi dalam pembelajaran di kelas (khususnya pemanfaatan komputer dan internet dalam pembelajaran dan inovasi dalam pembuatan bahan ajar yang menarik, inovatif, kreatif dan menyenangkan bagi peserta didik). Oleh karena itul MGMP Sosiologi Kota-Kab Tegal dan Kab Brebes telah menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Nasional Tahun 2009 pada tanggal 9 s.d. 10 November 2009 bertempat di Gedung Serbaguna SMA Negeri 3 Tegal dengan tema :

Peningkatan Profesionalitas Guru dalam Merancang Pembelajaran Sosiologi yang Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan bagi Peserta Didik . Adapun tujuan diselenggarakan Diklat Mapel Sosiologi antara lain: Memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan guru Sosiologi, Meningkatkan kemampuan guru dalam merancang Pembelajaran Sosiologi yang Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan bagi Peserta Didik, Meningkatkan ketrampilan dan kemampuan guru dalam pemanfaatan komputer dan internet dalam proses pembelajaran di kelas



Jumat, 30 Oktober 2009

ToT GURU PEMANDU SOSIOLOGI SMA IN SERVICE 2

Tim Guru Pemandu Sosiologi Kota Tegal (Noerhidayah, Yuni Kurniawati dan Rodiyanto) tanggal 30 Oktober s.d. 2 November 2009 mengikuti Training of Tariner (ToT) Guru Pemandu Sosiologi SMA In Service 2 yang diselenggarakandi LPMP Jawa Tengah

Jumat, 28 Agustus 2009

MATERI PROSES PERUBAHAN SOSIAL











PROSES - PROSES PERUBAHAN SOSIAL



Standar Kompetensi : Memahami dampak perubahan sosial

Kompetensi Dasar : 1.1 Menjelaskan proses perubahan sosial di masyarakat

Indikator : - Mendeskripsikan bentuk-bentuk perubahan sosial

- Memberikan contoh faktor pendorong perubahan sosial

- Memberikan contoh faktor – faktor penghambat perubahan sosial





PENGANTAR

Apabila kita telaah lebih seksama, setiap ,masyarakat manusia selama hidupnya pasti mengalami perubahan-perubahan. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak mengalami perubahan. Pada dasarnya perubahan tersebut merupakan proses modifikasi struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan yang terjadi didalam masyarakat disebut perubahan sosial.

Perubahan sosial merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang perubahan sosial di dalam masyarakat, terlebih dahulu anda harus mampu menjelaskan tentang perubahan sosial, faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial , contoh dampak perubahan sosial , tantang global terhadap eksistensi jati diri bangsa serta pemikiran atau gagasan untuk mengatasi memudarnya jati diri bangsa. Hal tersebut sangat penting untuk anda ketahui, karena sebagai bagian dari masyarakat ilmiah anda dituntut untuk dapat menganalisis perubahan sosial yang terjadi didalam masyarakat.

Untuk memudahkan anda dalam mempelajari materi tentang perubahan sosial dalam mata pelajaran ini, maka materi modul 2 ini disusun ke dalam 3 (tiga) kegiatan belajar berikut :

1). KB.1. Bentuk-bentuk perubahan sosial

2). KB.2. Faktor Pendorong Peubahan Sosial

3). KB.3. Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Pada akhir kegiatan belajar disediakan soal-soal latihan atau tugas yang harus Anda kerjakan. Di bagian belakang modul ini disediakan kunci jawaban. Pergunakan kunci jawaban tersebut setelah Anda selesai mengerjakan latihan dan tugas Anda. Dengan demikian Anda dapat menilai atau mengukur kemajuan belajar Anda sendiri. Pelajari modul ini kegiatan demi kegiatan, sehingga seluruh kegiatan belajar Anda dapat Anda kuasai dengan baik dan benar.

Apabila Anda masih belum paham benar, bacalah berulang-ulang dengan lebih cermat, diskusikan dengan teman dan guru Anda, atau tanyakan kepada orang yang menguasai benar masalah itu, bisa pula dengan banyak membaca koran, majalah, dan sebagainya.

Selamat belajar, semoga sukses !


4. 1. Kegiatan Belajar 1

BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL


4.1.1. URAIAN MATERI

1. PENGERTIAN

Perubahan sosial memiliki makna yang sangat luas dan mencakup berbagai segi kehidupan manusia seperti ekonomi, sosial dan politik. Karena itu, perubahan sosial budaya yang terjadi dalam suatu masyarakat menyangkut perubahan nilai, pola perilaku, organisasi sosial, pelapisan sosial, kekuasaan serta segi kemasyarakatan lainnya. Secara umum perubahan sosial diartikan adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan baru yang dapat saja tidak serasi fungsinya dengan pola kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

Setelah anda mengetahui tentang ruang lingkup perubahan perubahan sosial, berikut ini akan disajikan pendapat para ahli tentang pengertian Perubahan sosial.

· Selo Soemardjan menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap dan perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

· Kingsley Davis menyatakan bahwa perubahan sosiasl adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

· John Lewis Gillin dan John Philip Gillin melihat perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

· Mac Iver melihat perubahan sosial sebagai perubahan dalam hubungan sosial (sosial relationship) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.

· Wilbert Moore mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan penting dari pola-pola perilaku dan interaksi sosial.

· Robert H. Lauer mendefiniskan perubahan sosial sebagai perubahan dalam segi fenomena sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia, mulai dari tingkat individual hingga tingkat dunia.

Perubahan sosial dapat pula berupa kemajuan (progress) atau bahkan kemunduran (regress). Dalam arti kemajuan, perubahan yang terjadi dalam masyarakat mampu menciptakan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan disini dapat diartikan sebagai proses pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Dalam arti kemunduran, perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada aspek tertentu membawa pengaruh yang kurang menguntungkan. Misalnya penggunaan tenaga mesin di pedesaan mengakibatkan nilai kegotongroyongan masyarakat menjadi luntur, bahkan hilang.

Secara sosiologis, kita dapat mengetahui bahwa perubahan sosial akan selalu mengikuti suatu pola dan arah tertentu yang dapat dipelajari. Selama ini para ahli telah berupaya untuk mempelajari proses perubahan sosial dan mencoba untuk mengerti sifat dan pola perubahan sosial di dalam masyarakat.. Dibawah ini akan anda pelajari juga 2 (dua) teori utama pola perubahan soaial yaitu :

a. Teori Siklus

Teori siklus melihat perubahan sebagai sesuatu yang berulang-ulang. Apa yang akan terjadi sekarang pada dasarnya memiliki kesamaan atau kemiripan dengan apa yang ada sebelumnya. Didalam pola perubahan ini tidak tampak batas-batas antara pola hidup primitif, tradisional dan modern. Pola perubahan ini dapat digambarkan pada bagan di bawah ini :

Para penganut teori siklus juga melihat adanya sejumlah tahap yang harus dilalui oleh masyarakat. Namun mereka berpandangan bahwa proses perubahan masyarakat bukanlah berakhir pada tahap akhir yang sempurna melainkan berputar kembali ke tahap awal untuk peralihan selanjutnya.Oswald spengler (1880 – 1936) seorang ahli fillsafat Jerman, berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahun. Pitirim Sorokin (1889-1968), seorang ahli Sosiologi Rusia yang melarikan diri ke Amerika setelah meletusnya revolusi, berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Ketiga sistem kebudayaan tersebut adalah sebagai berikut :

· Kebudayaan ideasional

Kebudayaan ini didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supernatural).

· Kebudayaan idealistis

Kebudayaan ini berisi kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalitas berdasarkan fakta saling bergabung dalam menciptakan masyarakat yang ideal.

· Kebudayaan sensasi

Dalam kebudayaan ini, sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

Sorokin menilai bahwa peradaban barat modern merupakan peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh dan selanjutnya akan berubah menjadi kebudayaan ideasional yang baru. Arnold Toynbee (1889-1975) seorang sejarawan Inggris, juga menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan dan kematian.

b. Teori perkembangan

Penganut teori ini percaya bahwa perubahan dapat diarahkan ke suatu titik tujuan tertentu, seperti perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kompleks. Masyarakat tradisional menggunakan peralatan yang terbuat dari bahan seadanya melalui proses pembuatan secara manual, seperti alat-alat pertanian maupun alat-alat rumah tangga. Teknologi ini kemudian berkembang menjadi teknologi canggih yang pada intinya bertujuan mempermudah pekerjaan manusia. Pola perubahan ini dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini :

Teori ini dikenal dengan teori perkembangan atau linier. Teori perkembangan dibagi menjadi dua yaitu teori evolusi dan revolusi. Penganut teori evolusi berpandangan bahwa masyarakat secara bertahap berkembang dari primitif, tradisional, dan bersahaja, menuju masyarakat modern yang kompleks dan maju. Herbert spencer, seorang sosiolog dari Inggris, berpendapat bahwa setiap masyarakat berkembang melalui tahapan yang pasti. Sementara Emile Durkheim mengatakan bahwa masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik ke solidaritas organic. Solidaritas mekanik merupakan cara hidup masyarakat tradisional yang cenderung mengedepankan keseragaman sosial yang diikat oleh ide bersama. Sedangkan solidaritas organic merupakan cara hidup masyarakat yang lebih maju dan berakar pada perbedaan daripada persamaan. Masyarakat ini menurut Durkheim terbagi secara beragam dalam proses diferensiasi kerja. Max Weber melalui teori evolusinya berpandangan bahwa masyarakat berubah secara linier dari masyarakat yang diliputi pemikiran mistik dan takhayul menuju masyarakat yang rasional. Penganut teori revolusi, seperti Karl Marx berpandangan bahwa masyarakat berubah secara linier namun bersifat revolusioner. Marx lebih lanjut mengatakan bahwa masyarakat feodal akan berubah secara revolusioner menjadi masyarakat kapitalis. Jadi pada dasarnya suatu masyarakat akan berkembang ke arah tertentu

5. BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL

Para ahli sosiologi membedakan bentuk-bentuk perubahan sosial menjadi beberapa bentuk yaitu :

1. Perubahan Lambat (evolusi)

Perubahan secara lambat memerlukan waktu yang lama. Perubahan ini biasanya merupakan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Proses perubahan seperti ini dinamakan evolusi. Pada evolusi, perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Masyakat hanya berusaha menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Ada beberapa teori tentang evolusi antara lain :

1.1. Unilinear Theories of Evolutions

Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sampai ke tahap yang sempurna. Pelopor teori ini antara lain adalah August Comte dan Herbert Spencer. Suatu variasi dari teori tersebut adalah cyclical Theories yang dipelopori oelh Vilfredo Pareto. Pareto berpendapat bahwa masyarakat dan kebudayaannya mempunyai tahap-tahap perkembangan yang membentuk lingkaran, dimana suatu tahap tertentu dapat dilalui secara berulang-ulang.

1.2. Universal Theory of Evolution. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Menurut Herbert Spencer prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen, baik sifat maupun susunannya.

1.3. Multilined Theories of Evolution. Teori ini lebih menekankan pada penelitian penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya, mengadakan penelitian tentang pengaruh perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian terhadap sistem kekeluargaan dalam sebuah masyarakat.

2. Perubahan secara cepat (Revolusi)

Perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat dinamakan revolusi. Didalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu atau tanpa direncanakan dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu yang lama. Contohnya, revolusi industri di Inggris merupakan perubahan dari produksi tanpa mesin menuju ke tahap produksi dengan menggunakan mesin. Perubahan tersebut dianggap cepat karena mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan. Suatu revolusi dapat juga berlangsung dengan didahului oleh suatu pemberontakan. Contohnya revolusi kemerdekaan di Indonesia dan Revolusi Perancis.

Secara sosiologis, persyaratan berikut ini harus dipenuhi agar suatu revoluasi dapat tercapai yaitu :

· Harus ada keinginandari masyarakat banyak untuk mengadakan perubahan. Didalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan dan harus ada keinginan untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Misalnya Revolusi Perancis.

· Ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat untuk mengadakan perubahan. Contohnya revolusi di Cuba yang dipimpin oleh Fidel Castro.

· Pemimpin harus dapat menampung keinginan atau aspirasi dari rakyat untuk kemudian merumuskan aspirasi tersebut menjadi suatu program kerja.

· Ada tujuan konkrit yang dapat dicapai. Artinya tujuan tersebut dapat diamati oleh masyarakat dan dilengkapi oleh suatu ideologi tertentu.

· Harus ada momentum yang tepat untuk melakukan revolusi, yaitu saat dimana keadaan sudah tepat dan baik untuk mengadakan suatu gerakan. Contohnya, revolusi 17 agustus yang terjadi di Indonesia adalah suatu momentum yang tepat. Kemerdekaan merupakan keinginan rakyat Indonesia yang waktu itu sudah merasakan kejamnya perlakuan penjajah. Hal ini dibarengi dengan munculnya sosok pemimpin yang dapat menampung aspirasi rakyat serta waktu pencetusan yang tepat dimana saat itu terjadi kekosongan pemerintah setelah menyerahkan Jepang kepada sekutu pada tanggal 17 Agustus 1945.

3. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar

a. Perubahan Kecil. Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Misalnya, perubahan mode pakaian tidak akan membawa pengaruh berarti bagi masyarakat dalam keseluruhannya.

b. Perubahan Besar. Perubahan besar adalah suatu perubahan yang berpengaruh terhadap masyarakat dan lembaga-lembaganya, seperti dalam sistem kerja, sistem hak milik tanah, hubungan kekeluargaan, dan startifikasi masyarakat. Misalnya kepadatan penduduk di pulau Jawa telah melahirkan berbagai perubahan seperti lahan sempit, pengangguran tersamar kian nampak di desa-desa, banyak wanita dan anak-anak menjadi buruh, petani yang tidak memiliki tanah menjadi buruh tani. Dengan demikian, timbul bermacam-macam lembaga hubungan kerja, lembaga gadai tanah. Timbul pula kesenjangan yang dapat memicu konflik atau perpecahan yang akhirnya bisa sampai pada tahapan disintegrasi sosial.

4. Perubahan yang dikehendaki (Intended Change) atau Perubahan yang direncanakan (Planned Change) dan Perubahan yang tidak dikehendaki (Unintended Change) atau Perubahan yang tidak direncanakan (Unplanned Change).

a. Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan. Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan ini dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin dalam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sedangkan cara-cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (sosial engineering) atau sering pula dinamakan perencanaan sosial (sosial planning). Misalnya, lahirnya undang-undang perkawinan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1963, membatasi kaum laki-laki terutama pegawai negeri untuk mempunyai istri lebih dari satu kecuali ada alasan tertentu yang kuat.

b. Perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan. Perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan merupakan perubahan-perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat atau kemampuan manusia. Perubahan ini dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Misalnya, kecenderungan yang terjadi sekarang, seperti pada pelaksanaan upacara adat perkawinan yang hanya menampilkan sebagian kecilnya (cuplikan). Hal ini sebetulnya tidak dikehendaki masyarakatm , tetapi karena alasan-alasan tertentu seperti biaya yang mahal, waktu yang cukup lama, akhirnya masyarakat banyak mengikutinya.

Dalam kenyataannya, perubahan yang dikehendaki dengan tidak dikehendaki mempunyai kaitan yang erat. Misalnya, kemajuan teknologi pertanian seperti penggunaan traktor. Perubahan ini merupakan perubahan yang direncanakan atau dikehendaki. Bagi para petani kemajuan atau penggunaan traktor juga membutuhkan waktu yang relatif sedikit dibandingkan dengan menggunakan bajak dan kerbau. Namun, timbul akibat sampingan yang memang tidak dikehendaki masyarakat, seperti tidak terlihatnya lagi nilai kebersamaan atau kegotongroyongan warga untuk mengerjakan lahan pertaniannya secara bersama-sama. Semakin banyak buruh tani yang kehilangan pekerjaannya karena tenaganya telah digantikan oleh mesin yang tidak membutuhkan banyak tenaga manusia.

5. Perubahan Struktur dan Perubahan Proses

Selain bentuk-bentuk yang telah disebutkan diatas, perubahan sosial dapat pula kita bedakan atas dua bentuk, yakni perubahan structural dan perubahan proses.

a. Perubahan struktural, yaitu perubahan yang sangat mendasar yang dapat menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Misalnya, penggunanan alat-alat pertanian yang serba canggih.

b. Perubahan Proses, yaitu perubahan yang sifatnya tidak mendasar. Perubahan tersebut hanya merupakan penyempurnaan dari perubahan sebelumnya. Misalnya, perubahan kurikulum dalam bidang pendidikan. Sifatnya menyempurnakan kekurangan- kekurangan yang terdapat dalam perangkat atau dalam pelaksanaan kurikulum sebelumnya.

4.1.2. RINGKASAN

  1. Perubahan sosial adalah perubahan lembaga sosial dalam masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, nilai, sikap dan perilaku individu dan kelompoknya
  2. Ada dua teori utama perubahan sosial yaitu : teori siklus dan teori perkembangan.
  3. Bentuk-bentuk perubahan sosial antara lain : revolusi, evolusi, perubahan yang direncanakan, perubahan yang tidak direncanakan, perubahan progress, perubahan regress, perubahan besar, perubahan kecil.


4.1.3. UJI KOMPETENSI / ULANGAN HARIAN 1

  1. Perubahan sosial adalah semua perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya dan yang mencakup didalamnya nilai-nilai dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat

Pengertian tersebut dikemukakan oleh ...

a. Samuel Koenig

b. Mac Iver

c. Selo Soemardjan

d. Kingsley Davis

e. Gillin dan Gillin

  1. Jika di dalam masyarakat terjadi perubahan terhadap struktur sosial dan hubungan sosial, maka hal itu disebut sebagai perubahan ....

a. kebudayaan

b. organisasi

c. masyarakat

d. sosial

e. sosial dan budaya

  1. Sosiolog berikut yang mengembangkan teori evolusi Darwin dalam menjelaskan perubahan sosial adalah ....

a. Arnold Toynbee

b. Karl Marx

c. Herbert Spencer

d. Max Weber

e. Emile Durkheim

  1. Manakah dari contoh-contoh di bawah ini yang menunjukkan perubahan progress ...

a. listrik masuk desa menyebabkan kenalakan remaja

b. siaran televisi menyebabkan anak malas belajar

c. banayk wanita yang berpakaian minim

d. penemuan komputer mempercepat pekerjaan manusia

e. pemakaian robot dan mesin menyebabkan pengangguran

  1. Perubahan mode pakaian dan gaya rambut dapat dikategorikan sebagai perubahan yang pengaruhnya kecil. Hal ini dikarenakan ...

a. selalu menguntungkan kaum muda

b. hanya diikuti oleh golongan tertentu

c. hanya berhubungan dengan kebutuhan sekunder

d. tidak ada hubungan dengan kebutuhan sekunder

e. perubahan diciptakan oleh kaum pedagang

  1. Contoh dari perubahan cepat dan mendasar adalah ………..

a. Model pakaian

b. Revolusi industri

c. Hukum pewarisan

d. Undang-undang perkawinan

e. Pembauatan alat-alat

7. Perubahan sosial di masyarakat dapat terjadi apabila ….

a. masyarakat sadar akan kekurangannya

b. menyangkut sesuatu yang esensial

c. adanya tekanan dari pihak luar

d. dibutuhkan kelompok minoritas

e. terjadi pertentangan nilai dan norma

8. Contoh perubahan sosial yang bersifat regress antara lain ….

a. masuknya budaya asing

b. gotong royong yang mulai luntur

c. penanganan kejahatan secara terpadu

d. penyuluhan bahaya narkoba

e. revolusi sosial di negara maju

9. Perhatian gambar berikut ini :

Dari gambar di atas dapat ditarik kesimpulan adanya perubahan sosiall dengan pola ….

a. bergelombang

b. linerar

c. menyebar

d. sprral

e. bercabang

10. Contoh perubahan sosial yang bersifat progress adalah ….

a. listrik masuk desa menyebabkan meningkatnya kriminal

b. pemakaian kalkulator menyebabkan siswa malas menghitung

c. penemuan komputer memperlancar sistem informasi

d. penemuan komputer menghambat sistem informasi.

e. Berhasilnya program KB menyebabkan kurangnya tenaga kerja


4. 1. Kegiatan Belajar 2


FAKTOR PENGORONG PERUBAHAN SOSIAL



Setelah mempelajari Kegiatan Belajar 2 ini Anda diharapkan dapat :

2. Menjelaskan Faktor Penyebab perubahan sosial

3. Menjelaskan Faktor pendorong perubahan sosial


4.1.1. URAIAN MATERI

Perubahan Sosial tidak terlepas dari perubahan Kebudayaan

Tahukah anda bahwa perubahan sosial dalam masyarakat tidak lepas dari perubahan kebudayaan ? Mengapa perubahan sosial melekat pada diri suatu masyarakat dengan kebudayaan ? Untuk menjawab pertanyaan di atas, anda harus memperhatikan pernyataan berikut ini .

Perubahan sosial selalu melekat pada diri suatu masyarakat dengan kebudayaan karena disebabkan hal-hal sebagai berikut :

1. Menghadapi masalah-masalah baru

Manusia sebagai masyarakat berbudaya selalu menghadapi masalah-masalah baru yang mengharuskan adanya pemikiran, usaha dan peralatan baru untuk memecahkannya. Contohnya semakin mampu suatu masyarakat untuk membeli kendaraan pribadi, maka semakin banyak pula permasalahan baru yang menuntut pemecahannya. Diantaranya penanggulangan kepadatan dan kemacetan lalau lintas di jalan raya, penanggulangan polusi udara oleh asap kendaraan bermotor, penyediaan parkir, penyediaan tempat penjualan bahan bakar, sistem pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor yang cepat. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa proses perubahan masyarakat tidak akan ada akhirnya, sepanjang masyarakat itu masih eksis.

2. Ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris kebudayaan

Bertahannya bentuk-bentuk kebudayaan yang berpola dalam suatu masyarakat sangat tergantung pada hubungan antarwarga masyarakat yang mewariskan kebudayaan tersebut. Tidak semua orang dalam suatu masyarakat memiliki pandangan dan sikap yang sama tentang kebudayaan mereka sendiri. Contohnya : di kalangan masyarakat yang bersandar pada sistem budaya agama tertentu, tidak jarang bermunculan pembaharu-pembaharu yang membawa perubahan seperti adanya gerakan protestanisme dalam kalangan pemeluk agama Kristen dan adanya gerakan wahabi yang merealisir perubahan-perubahan besar dalam pemahaman dan pengalaman keagamaan dalam agama Islam.

3. Lingkungan yang berubah.

Lingkungan tempat suatu masyarakat hidup secara konstan juga berubah sebagai akibat perlakuan manusia. Lingkungan alam termasuk kekayaan alam atau sumber daya alam juga merupakan salah satu sumber dari kecenderungan masyarakat dan kebudayaan untuk berubah.

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG PERUBAHAN

Anda tentunya tahu bahwa tidak ada satu masyarakat pun yang tidak mengalami perubahan. Setiap masyarakat pasti menginginkan perubahan. Kecenderungan masyarakat untuk melakukan perubahan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

1. Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada

2. Timbul keinginan untuk mengadakan perbaikan

3. Sadar akan adanya kekurangan-kekurangan dalam kebudayaan sendiri sehingga berusaha untuk menutupinya dengan mengadakan perbaikan.

4. Adanya usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.

5. Banyaknya kesulitan yang dihadapi memungkinkan manusia berusaha untuk dapat mengatasinya.

6. Tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan ada keinginan untuk meningkatkan taraf hidup

7. Sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal yang baru, baik yang datang dari dalam maupun dari luar masyarakat tertentu.

8. Sistem pendidikan yang dapat memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN SOSIAL

Menurut para ilmuwan sosial, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan sosial di dalam masyarakat, antara lain :

a. Faktor geografis

b. Faktor teknologis

c. Faktor Ideologis

d. Faktor kepemimpinan

e. Faktor Penduduk

6. Faktor Pendorong Perubahan Sosial

a. Faktor Pendorong

Tahukah anda bahwa perubahan sosial bukanlah suatu gejala yang berdiri sendiri, tetapi selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor terentu ? Secara sosiologis, ada dua faktor pendorong terjadinya perubahan sosial budaya. Kedua faktor tersebut adalah faktor pendorong yang datangnya dari dalam masyarakat sendiri (internal) dan faktor pendorong yang datangnya dari luar masyarakat (eksternal).

1. Faktor internal. Perubahan sosial dapat terjadi karena faktor-faktor yang berlangsung dalam masyarakat itu sendiri. Faktor tersebut antara lain :

· Bertambah atau berkurangnya penduduk

Pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan struktur dalam masyarakat, terutama lembaga-lembaga kemasyarakatan. Contohnya, timbul sistem hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, dan bagi hasil, yang sebelumnya belum dikenal. Demikian halnya dengan berkurangnya penduduk desa yang mungkin disebabkan karena berpindahnya penduduk dari desa ke kota. Keadaan ini tentu akan mempengaruhi sistem pembagian kerja di daerah tersebut. Misalnya, perpindahan penduduk desa ke kota di Pulau Jawa umumnya dilakukan kaum laki-laki, tidak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Keadaan ini mempengaruhi sistem kerja dalam masyarakatnya, dimana wanita yang sudah berkeluarga memiliki peran ganda. Di satu sisi mereka sebagai ibu yang berperan untuk mengasuh dan membesarkan anaknya. Di sisi lain, mereka menggantikan sang suami sebagai kepala keluarga yang mempunyai tanggung jawab untuk bekerja di ladang.

· Penemuan- penemuan Baru

Penemuan-penemuan baru dibedakan dalam pengertian invention dan discovery. Invention adalah proses dimana suatu unsur kebudayaan baru dihasilkan dengan mengkombinasi atau menyusun kembali unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada dalam masyarakat. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan baru, baik berupa alat, ataupun yang berupa gagasan. Discovery dapat menjadi invention jika masyarakat sudah mengakui, menerima, bahkan sudah menerapkan penemuan tersebut. Seringkali proses dari discovery sampai ke invention membutuhkan suatu rangkaian penciptaan. Contohnya, penemuan mobil dimulai dari usaha seorang Austria, yaitu S.Marcus (1875) yang membuat motor gas pertama. Sebenarnya sistem gas tersebut juga merupakan suatu hasil dari rangkaian ide yang telah dikembangkan sebelum Marcus. Namun demikian, Marcuslah yang telah membulatkan penemuan tersebut. Dialah yang pertama kali menghubungkan motor gas dengan sebuah kereta. Itulah saatnya mobil menjadi suatu discovery.

Perlu anda ketahui juga bahwa penemuan baru pada umumnya dapat mengakibatkan bermacam-macam pengaruh pada masyarakat. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain :

v Penemuan baru akan menimbulkan pengaruh pada bidang-bidang lainnya. Contohnya, penemuan baru seperti radio, akan memancarkan pengaruhnya ke pelbagai arah dan menyebabkan perubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan dan adat istiadat. Pengaruh tersebut dapat digambarkan seperti pada bagan berikut ini

P


v Penemuan baru mengakibatkan perubahan-perubahan yang menjalar dari satu lembaga kemasyarakatan ke lembaga kemasyarakatan lainnya. Contohnya, penemuan baru kapal terbang telah membawa pengaruh besar terhadap metode berperang yang kemudian kian memperdalam perbedaan antara negara-negara besar (superpower) dengan negara-negara kecil. Pengaruh tersebut dapat digambarkan seperti pada bagan berikut ini :

v

P P1 P2 P3

v Beberapa penemuan baru dapat mengakibatkan satu jenis perubahan. Contohnya, penemuan mobil, kerta api, dan telepon menyebabkan tumbuhnya lebih banyak pusat-pusat kehidupan di daerah pinggiran kota yang dinamakan suburban.

Pengaruh tersebut dapat digambarkan seperti pada bagan berikut ini :

P1

P2

P3

· Pertentangan (konflik) masyarakat

Pertentangan atau konflik merupakan salah satu sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan dapat terjadi antara inidividu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dan kelompok.

Tidak jarang pertentangan antara berbagai kepentingan dapat menimbulkan perubahan. Misalnya :

v Pada etnis Batak yang menganut sistem patrilineal. Apabila seorang ayah meninggal dunia maka anak-anaknya berada di bawah asuhan keluarga almarhum suaminya, walaupun anak-anak tersebut tinggal bersama ibunya.

v Pertentangan antara kelompok muda dan kelompok tua ketika Indonesia sedang dalam proses menuju kemerdekaan yang berakhir dengan peristiwa Rengas Dengklok.

v Terjadinya pertentangan antara kelompok elit politik terhadap kepemimpinan Presiden Gus Dur, atau juga sebelumnya terhadap pencalonan presiden wanita dan sebagainya.

· Terjadinya Pemberontakan atau revolusi

Adanya revolusi atau pemberontakan dalam suatu negara akan menimbulkan perubahan. Misalnya revolusi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 mengubah wajah Indonesia yang tadinya negara terjajah menjadi sebuah negara merdeka. Demikian pula revolusi Amerika tahun 1776, revolusi Rusia tahun 1917, dan revolusi Perancis tahun 1789 yang berusaha menentang kekuasaan yang absolut.

b. Faktor eksternal. Selain dari dalam masyarakat, perubahan sosial budaya dapat juga terjadi karena faktor-faktor yang datang dari luar masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah :

· Lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia

Terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, meletusnya gunung berapi, banjir besar, angin, topan dan sebagainya akan mengakibatkan masyarakat harus pindah ke tempat tinggal yang baru (bedol desa). Mereka harus beradaptasi dengan keadaan alam baru yang menuntut perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya.

· Peperangan

Peperangan dengan negara lain dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan. Karena biasanya negara yang menang dalam peperangan akan memaksakan kebijakannya terhadap negara yang kalah. Bentuk pemaksaan tersebut antara lain adalah dominasi kebudayaan, dominasi politik, dan dominasi ekonomi. Misalnya, Negara Jerman mengalami perubahan ketatanegaraan bahkan ideologi setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II. Demikian pula negara Jepang setelah Perang Dunia II mengalami perubahan dari negara agraris militer 4enjadi negara industri yang sangat maju

· Pengaruh kebudayaan masyarakat lain

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Artinya, masing-masing masyarakat selain mempengaruhi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang lain. Penyebaran kebudayaan atau pengaruh dari satu daerah ke daerah lain ini dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Proses ini dinamakan diffusi.

Masuknya pengaruh suatu kebudayaan terhadap kebudayaan yang lain dapat dilakukan dengan penetrasi (Penetration). Ada dua jenis penetrasi yang dapat mendorong terjadinya perubahan sosial budaya yaitu :

a. Penetration Pacifique

Penetration pacifique adalah suatu unsur kebudayaan asing yang masuk ke dalam kebudayaan penerima dengan jalan damai atau tanpa adanya suatu paksaan apapun. Penetration pacifique terjadi karena unsur-unsur kebudayaan asing tersebut dianggap lebih baik, lebih unggul, atau lebih sempurna, sehingga kebudayaan masyarakat penerima mau mendukung dan menyambut baik terhadap masuknya kebudayaan dari luar tersebut.

Contohnya :

v Masuknya Iptek dari negara maju ke Indonesia diterima dengan sukarela, sebab akan membawa kemajuan bagi proses pembangunan di Indonesia.

v Masuknya kebudayaan Hindu maupun Islam ke Indonesia, diterima oleh masyarakat Indonesia tanpa adanya paksaan apapun, bahkan mampu beradaptasi dengan kebudayaan setempat.

Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan hal-hal sebagai berikut :

v Akulturasi, yaitu perpaduan dua buah kebudayaan yang menghasilkan suatu bentuk kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan unsur aslinya. Misalnya : bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Contoh lainnya : sistem ekonomi yang diterapkan oleh kebanyakan negara berkembang dewasa ini pada dasarnya meniru sistem ekonomi yang berlaku di negara-negara barat yang sudah maju. Sistem ekonomi ini diiikuti karena dianggap lebih baik, lebih sempurna dan dapat membawa perubahan ke arah kemajuan.

v Asimilasi

Asimilasi yaitu bercampurnya dua buah kebudayaan yang menghasilkan suatu bentuk kebudayaan baru. Proses ini kadang menghasilkan kebudayaan setempat berangsur-angsur lenyap.

v Sintesis

Sintesa diartikan sebagai proses masuknya sebuah kebudayaan dilakukan secara paksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan barat pada zaman penjajahan ke Indonesia disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyaralat.

b. Penetration violente

Penetration violente adalah masuknya kebudayaan asing ke dalam kebudyaan penerima dengan cara paksaan, peperangan, atau penjajahan, yang diawali oleh adanya serangan penaklukan sebagai titik awal dari proses masuknya unsur-unsur kebudayaan asing tersebut.

Contohnya :

v Ketika bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda, banyak unsur-unsur kebudayaan Belanda yang harus diikuti dan ditaati oleh kebanyakan kebudayaan masyarakat Indonesia, misalnya sistem pendidikan Belanda, aturan-aturan dalam sistem pemerintahan, sistem perdagangan, dan sebagainya.

v Ketika Jepang berkuasa dan menjajah Indonesia, masyarakat Indonesia diwajibkan mengikuti upacara-upacara menurut tata cara Jepang, yaitu menghormat matahari terbit, mengakui bahwa Jepang adalah saudara tua, masyarakat harus dapat menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, dan sebagainya.




1.1.2. RINGKASAN

1. Faktor penyebab perubahan sosial yang berasal dari dalam (internal) yaitu : bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk, penemuan baru dan adanya pemberontakan/revolusi dalam masyarakat.

2. Faktor penyebab perubahan sosial yang berasal dari luar (eksternal) yaitu : Lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, Peperangan, Pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

4.1.3. UJI KOMPETENSI / ULANGAN HARIAN 1

1. Perubahan yang disebabkan oleh faktor lingkungan alam adalah

a. terjadinya banjir

b. hujan besar

c. terjadinya bedol desa

d. hama pertanian

e. kebakaran

2. Cara suatu kebudayan yang masuk dengan jalan damai disebut ….

a. Penetration violente

b. Penetration culture

c. penetration civilization

d. penetration pacifique

e. diffusi culture

3. Berikut ini yang bukan merupakan faktor pendorong terjadinya perubahan sosial adalah ….

a. sistem pendidikan yang maju

b. rasa tidak puas terhadap keadaan

c. kebutuhan yang semakin kompleks

d. sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan

e. mempertahankan adat dan kebiasaan.

4. Di bawah ini yang termasuk ke dalam faktor eksternal penyebab perubahan dan dinamika sosial adalah ….

a. Konflik di masyarkat

b. Adanya penemuan baru

c. peperangan

d. revolusi dan pemberontakan

e. bertambah dan berkurangnya penduduk

5. Berikut ini manakah yang bukan merupakan faktor-faktor pendorong perubahan sosial ….

a. Sistem pelapisan sosial terbuka

b. Toleransi terhadap perubahan-perubahan menympang

c. Masalah-masalah sosial yang timbul seperti kemiskinan

d. Keterbukaan masyarakat terhadap kebudayaan luar

e. Keinginan untuk menjaga stabilitas dan integrasi bangsa

6. Perhatikan pernyatan berikut ini

  1. bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk
  2. adanya akulturas
  3. faktor alam yang berubah
  4. adanya penemuan baru

Dari pernyataan diatas yang termasuk faktor internal dari perubahan sosial adalah ….

a. dan 2

b. dan 3

c. 1 dan 4

d. dan 3

e. dan 4

7. Perubahan mode pakaian dan gaya rambut dapat dikategorikan sebagai perubahan yang pengaruhnya kecil. Hal ini dikarenakan ...

a. selalu menguntungkan kaum muda

b. hanya diikuti oleh golongan tertentu

c. hanya berhubungan dengan kebutuhan sekunder

d. tidak ada hubungan dengan kebutuhan sekunder

e. perubahan diciptakan oleh kaum pedagang

8. Berikut faktor-faktor yang tidak mendorong dan mempengaruhi perubahan sosial yaitu ....

a. nilai dan sikap

b. struktur sosial

c. zaman dan keadaan

d. kependudukan

e. lingkungan alam

9. Setiap masyarakat mempunyai ideologi dasar yang terdiri dari keyakinan dan nilai-nilai yang bersifat kompleks. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan sosial adalah faktor .....

a. penduduk

b. teknologi

c. geografi

d. ideologi

e. kepemimpinan

10. Faktor-faktor yang tidak memudahkan asimilasi adalah....

a. sistem pendidikan yang maju

b. toleransi

c. perkawinan antarsuku

d. simpati

e. kesamaan ekonomi


4. 1. Kegiatan Belajar 3

FAKTOR PENGHAMBAT PERUBAHAN SOSIAL.


4.1.1. URAIAN MATERI

Faktor penghambat Perubahan Sosial

Disamping ada faktor yang mendorong terjadinya suatu perubahan di dalam masyarakat, terdapat juga beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan sosial budaya. Menurut Soerjono Soekanto faktor yang menghambat terjadinya perubahan sosial yaitu sebagai berikut :

· Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.

Kehidupan terasing menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin dapat memperkaya kebudayaan sendiri.

· Perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat

Hal ini dapat disebabkan oleh kehidupan masyarakat yang tertutup sehingga pendidikan tidak maju.

· Sikap masyarakat yang masih mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif

· Adanya kepentingan-kepentingan yang sudah tertanam kuat (vested interest).

Orang yang selalu mengidentifikasi diri dengan usaha dan jasa-jasanya.

· Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan.

Adanya kekhawatiran pada masyarakat akan adanya unsur-unsur luar yang dapat menggoyahkan integrasi dan menimbulkan perubahan pada aspek-aspek tertentu di dalam masyarakat.

· Prasangka terhadap hal-hal yang baru atau asing atau sikap yang tertutup, terutama yang datang dari barat.

Pengalaman pahit selama masih penjajahan, misalnya dapat menimbulkan sikap penuh curiga dan khawatir akan datangnya unsur-unsur baru.

· Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis.

Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur budaya rohaniah, biasanya diartikan dengan usaha yang berlawanan dengan ideologi masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.

· Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.

Sementara ahli Sosiologi yang lain menyimpulkan bahwa faktor penghambat perubahan sosial antara lain :

1. Keterasingan masyarakat

Keterasingan sebuah masyarakat biasanya disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat geografis. Sebagai contoh, suku Badui atau suku-suku di Papua yang mendiami wilayah Lembah Ballem cenderung terasing dari masyarakat luar. Hal ini karena minimnya hubungan yang terjadi antara mereka (masyarakat terasing) dengan masyarakat luar yang dapat dikatakan lebih terbuka.Intinya ada pada komunikasi.

Sedikitnya komunikasi dengan masyarakat luar membuat perkembangan pengetahuan mereka tidak secepat masyarakat di luar suku mereka. Tidak adanya listrik, pesawat televisi, dan media cetak membuat informasi-informasi yang ada di luar tidak dapat mereka tangkap. Kehidupan mereka relatif tetap atau dengan kata lain berubah namun sangat lambat.

2. Alasan ideologi dan agama

Ideologi dan agama merupakan faktor penting yang menghambat proses perubahan sosial, terlebih perubahan sosial yang bersumber dari luar masyarakat. Dengan kata lain, perubahan sosial tidak atau kurang sejalannya dengan ideologi atau agam masyarakat yang bersangkutan. Sebagai contoh dalam bidang agama, proses masuknya budaya-budaya Barat yang tidak sejalan dengan agama tertentu, Islam misalnya, cendrung menemui

3. Tingkat pendidikan yang rendah

4.1.2. RANGKUMAN

1. Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya perubahan adalah :

· Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

· Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.

· Sikap masyarakat yang mempertahankan nilai-nilai tradisi

· Adanya kepentingan-kepentingan yang tertanam kuat (vested interest)

· Adanya rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan

· Prsangka terhadap hal-hal yang baru

· Hambatan yang bersifatideologis

· Adat dan kebiasaan

4.1.3. UJI KOMPETENSI /ULANGAN HARIAN 2

1. Pada umumnya perubahan masyarakat di negara berkembang terhambat karena ..

a. kuatnya masyarakat

b. semua cabang produksi mundur

c. kuatnya tradisi

d. lemahnya tradisi dan norma sosial

e. primitifnya masyarakat

2. Berikut faktor-faktor yang tidak mendorong dan mempengaruhi perubahan sosial yaitu ....

a. nilai dan sikap

b. struktur sosial

c. zaman dan keadaan

d. kependudukan

e. lingkungan alam

3. Faktor-faktor yang tidak memudahkan asimilasi adalah....

a. sistem pendidikan yang maju

b. toleransi

c. perkawinan antarsuku

d. simpati

e. kesamaan ekonomi

4. Berikut ini yang bukan merupakan realisasi dari perubahan sosial adalah ...

a. asimilasi

b. penyesuaian

c. penguasaan

d. difusi

e. pengadaptasian

5. Berikut ini yang bukan sikap mental penghambat pembangunan yang kurang selaras ....

a. berprasangka terhadap perubahan

b. tidak jujur

c. sikap pasrah menerima

d. kurang disiplin

e. hidup royal